SAMPANG || BERITAMADURA – Polemik air keruh milik Perumda Air Minum (PDAM) Trunojoyo Sampang, Madura, Jawa Timur tak kunjung diatasi. Hal tersebut dapat sorotan dari Laskar Pemuda Indonesia (LPI) Sampang.

Melalui Forum Audiensinya, Kamis (8/5/2025) LPI mendesak PDAM Trunojoyo Sampang untuk segera mengatasi polemik tersebut. Sebab air keruh terkesan ada pembiaran, dan kondisi itu berlangsung kurang lebih 1 tahun.

Ketua Laskar Pemuda Indonesia (LPI) Sampang, Ali Muhtar mangatakan, kondisi air keruh sudah berjalan 1 tahun lebih, tapi sampai dengan saat ini tidak ada penyelesaian.

Kemudian, secara ekonomis PDAM memberikan subsidi Rp. 47.000 ke 800 pelanggan terdampak Air Keruh sumber Rubaruh, numun hitungannya tetap sama. Sebab, pelanggan terdampak itu tetapi harus membeli air galon buat konsumsi air minum.

“Kami mendesak agar problem ini segera diatasi, karena kita menilai secara ekonomis masyarakat tetap harus membeli Air Galon untuk konsumsi, sebab air PDAM itu tidak layak dikonsumsi,” tururnya.

Menurut Mahasiswa IAIN Madura itu, Perumda Air Minum (PDAM) Trunojoyo bukan Perusahaan yang mencari Profit Oriented atau berjualan air, melainkan memenuhi kebutuhan masyarakat Sampang. Tentu ketika ada problem harus segera diatasi.

Namun, realita di lapangan hingga satu tahun lebih kondisi air keruh PDAM itu tak kunjung ada penyelesaian, hal ini LPI nilai suatu kebobrokan atau ketidak seriusan pihak-pihak terkait untuk memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan.

“Ada 800 pelanggan terdampak Air Keruh PDAM, tapi tidak ada penyelesaian. Jangan tahu nuntut pembayaran iuran saja, tapi tanggungjawabnya ketika ada keluhan juga diingat. PDAM ini aneh bin ajaib,” kesalnya.

Sementara, Kepala Sub Bagian (Kasubit) Teknik, PDAM Trunojoyo Sampang, Ilung mengatakan, untuk penyelesaian polemik air keruh pihaknya terkendala anggaran dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang.

“Strategi yang sudah kita lalui, Geo Listrik sudah, pencarian titik sudah, tanah sudah, Detail Engineering Design atau Rancang Bangun Rinci (DED) sudah mulai selesai, dan pembebasan lahan, tinggal anggaran dari Pemkab belum ada,” katanya.

Diakui, ketika sudah di anggarkan dan anggaran sudah turun, maka di tahun 2025 keluhan itu selesai, dan 800 pelanggan terdampak bisa menikmati air bersih.

“Kalau anggarannya ada tahun ini semuanya akan selesai, dan ratusan pelanggan itu bisa menikmati air bersih,” pungkasnya.